Selamat datang di blog kepenulisan. Silakan menimba ilmu di sini dan jangan copy-paste.

"Keep writing and play your imagination" Yudha Pasca

Join Us On : LightNovel.ID


Senin, 10 Juli 2017

The Codex of Lucifer: Chapter 03 - The Grand Grimoire







'The Grand Grimoire'

Malaikat berjubah merah itu, Raguel, dengan sepasang sayapnya terlihat turun dari surga menuju bumi dengan kecepatan cahaya. Saking cepatnya terlihatlah api yang membara, membekas bagai ekor panjang di gelapnya malam kota Jakarta.

Dibawanya sebuah telur biru bercahaya itu, yakni yang disebut-sebut dengan nama grand grimoire. Metatron memberikan misi penting ini untuk menyelamatkan manusia dari kematian yang akan menghampiri.

Memberi grand grimore pada manusia yang sebentar lagi dijemput ajalnya bukan hanya seperti memberi grimore pada manusia yang sedang sakit. Memberi grand grimoire pada manusia yang sebentar lagi dijemput ajalnya berarti Raguel juga harus bernegosiasi dengan malaikat maut.

“Erh, sejujurnya ini misi yang menyebalkan,” gumamnya.

Bukan perkara mudah, karena malaikat maut juga sedang menjalankan perintah Tuhan. Jika dia tak mau, maka manusia tersebut memang sudah seharusnya mati.

Dari arah jam tujuh, Raguel melihat dua cahaya merah terbang mendekat. Aura jahat ini, aura negatif ini benar-benar terasa kuat. Raguel dapat merasakan panas di lehernya.

“Tidak salah lagi. Itu mereka yang dilaporkan Sandalphon,” batinnya. “Rupanya grand grimoire membawa energi yang sangat kuat hingga mereka dengan mudah mendeteksinya dari jarak langit surga.”

Saat sedang bergumam sendiri, seketika itu sebuah petir hitam menyambar, mencoba datang mendekati Raguel. Bukan hal yang sulit, dengan mudah Raguel membelokkan diri hingga serangan tersebut meleset.

Rupanya tak hanya satu serangan, kini dari sebelah kiri, Chika terlihat mencoba menyerang Raguel dengan tebasan maut.

Angin hitam-merah itu berhembus kuat mendekati Raguel. Dengan sigap, Raguel membuat sebuah tameng besar bersimbol salib, dan serangan Chika itu pun lumpuh dibuatnya.

Memanfaatkan momen ini, Ratih yang terbang di belakang Raguel pun mengayunkan sabitnya. Lalu petir-petir hitam itu menyerang dengan cara membabi-buta.

Raguel merasa kerepotan karena serangan tersebut hanya selisih setengah detik setelah  serangan Chika sebelumnya. Giginya menggeretak, dia harus bertindak cepat.

Instingya telah berkata, dia lalu membuat tameng salib lagi, kemudian benturan energi malaikat dan iblis itu pun pecah.

“Heh, payah!”

Terselamatkan, selisih nol koma satu detik. Meleset sedikit saja maka Metatron sudah membuat batu nisan untuknya.

Tentu, tameng salib itu ampuh menangkal segala serangan iblis, karena tameng itu adalah tameng milik Michael, Sang Jenderal Surga, hingga serangan Ratih tadi tidak ada apa-apanya. Hanya butuh keterampilan dan ketepan waktu untuk memakai jurus tersebut.

“Ergh, sial!”

Lekas setelah itu Chika terbang melingkar ke kanan, diikuti dengan Ratih yang terbang melingkar ke kiri. Mereka dengan serangan kejut perlahan mencoba mendekati Raguel.

Petir-petir hitam itu meluncur bebas, juga tebasan angin milik Chika yang terus membidik Raguel. Mereka menyerang secara bersamaan sebagai pancingan untuk mendekatkan jarak mereka ke Raguel.

Raguel yang berada di tengah-tengah hanya mampu membuat tameng. Sejujurnya, dia terjebak oleh dua gadis ini. Dia hanya mampu bertahan dalam tameng salib tersebut.

“Ini gawat!” gumamnya.

Saat Ratih dan Chika sudah berada pada jarak yang cukup dekat, mereka berdua pun saling menebaskan senjatanya menghajar tameng Raguel.

Ledakan energi terjadi, tameng itu masih menggantung kokoh di langit.

“Memakai jurus ini hanya membuang banyak stamina saja. Aku harus bertindak cepat!”

Segeralah Raguel terbang ke angkasa sebelum melepaskan jurus tameng salibnya. Akhirnya kini dia bisa bebas dari serangan Ratih dan chika. Dan dari jarak sejauh ini dia pun mengeluarkan senjatanya.

Sebuah partikel merah layaknya kunang-kunang bersinar di tangan kanan, lalu terbakar layaknya api. Dari sanalah sebuah pedang dengan mata pisau seperti gergaji muncul.

“Ayolah! Cukup main-mainnya. Pak tua itu sedang memberi misi penting yang masa tenggangnya tinggal tujuh menit lagi, dan aku juga belum bernegosiasi dengan si jelek itu, tahu!”

Setelah berkata demikian, Raguel pun mengayunkan pedangnya. Dengan ringan, sebuah gelombang badai api pun tercipta, menghembus ke arah Ratih dan Chika

“Lari!”

Dengan jantung berdebar mereka berdua pun terhuyung-huyung terbang dengan kecepatan tinggi hingga serangan tersebut berhasil dihindari. Sebuah serangan maha dahsyat dari Raguel memang pantas menjadikannya salah satu anak buah Michael.

Tidak puas dengan itu, Raguel segera terbang mendekati Ratih yang terpisah jauh jaraknya dari Chika. Kecepatan terbangnya bahkan tak bisa dilihat oleh mata telanjang, dan tiba-tiba saja dia sudah mengambang di belakang Ratih.

Seakan ini adalah hari kematiannya, Ratih hanya diam di tempat. Dia sadar betul bahwa Raguel sudah ada di belakangnya, namun untuk bergerak saja sudah terbilang terlambat, sementara pedang bermata gergaji itu sudah siap merobek lehernya.

Melihat momen ini, Chika dari jauh merasakan sebuah kesepian datang menghampiri. Jika Ratih mati, maka dia tak punya teman lagi. Jika Ratih mati, maka dia tak mempunyai orang terdekat lagi.

Dadanya sesak, seperti tubuhnya tertimbun kapal selam. Dia bergetar memegang pedang, tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Ratih di seberang sana.

Kesepian, kehampaan itu benar-benar telah datang di depan matanya hingga pupil itu mengecil.

“AAAAAARGH!”

Sebuah pilar gelap turun dari langit, tepat di belakang Chika, mencengkram kulit bumi. Angin besar tiba-tiba menyapu Raguel dari punggung Ratih, hingga mata pedang gergaji itu gagal memakan korban.

Raguel terpental satu kilometer jauhnya. Serangan itu tak berbahaya, tak bersifat merusak. Chika hanya mencoba menjauhkan Raguel dari Ratih.

Kini atmosfir pertarungan berubah, terasa semakin panas. Dari kejauhan Raguel tahu bahwa kekuatan Chika naik drastis, itu bukanlah Chika yang sebelumnya.

Kekuatan itu berasal dari amarah, dari perasaan terpendamnya. Chika seperti berhasil menaikkan level iblisnya. Bisa jadi ini adalah kekuatan grimoire yang selama ini mereka kumpulkan.

Mata Chika berubah merah, semua gigi menjadi taring dengan banyak kerutan urat pada wajah. Dia tampak mengamuk. Dengan pedang besarnya, dia lalu terbang menuju Raguel dengan kecepatan penuh.

Melihat itu, Raguel pun memasang kuda-kuda bertahan. Alhasil, tebasan pedang Chika beradu dengan pedang milik Raguel, dan menimbulkan percikan kilat hitam.

Raaguel berhasil menahan, walau kuda-kudanya sedikit kendur. Pijakan kakinya sedikit demi sedikit mundur ke belakang, dan akhirnya berhasil mencapai batas.

Momen ini pun dimanfaatkan Chika dengan semakin kuat mendorong pedangnya, terus bergesekkan dengan mata gergaji itu.

“Aku sedang dalam misi, tahu! Pergilaaaaah!”

Sebuah cahaya emas muncul menyelimuti pedang Raguel. Semakin bersinar, semakin tebal. Lalu seperti tembakan laser, tubuh  Chika pun dibuat terhempas karenanya.

Chika terlempar jauh, melampaui jarak tiga kilometer.

“Huh…, huh…”

Raguel tampak kelelahan, napasnya memburu. Namun dia sadar perjuangan melawan dua iblis ini belum usai. Dia menggenggam erat pedangnya, lalu meluncur cepat dengan kecepatan cahaya hingga sekarang sudah berada di hadapan Chika.

“Tak akan kubiarkan kau!”

Teriakan itu berasal dari Ratih yang sedang sama-sama sedang terbang mendekati Chika.

Dengan sigap, Ratih membuat tameng gelap yang berhasil menghentikan tebasan maut Raguel yang pedangnya sedang dalam mode kemarahan.

Chika selamat, namun kesadarannya terlihat goyang. Dia Nampak pingsan, dan perlahan jatuh ke bumi.

Melihat itu, Ratih segera terbang bebas mencoba menggapai Chika. Raguel yang melihatnya tentu tidak senang ikan buruannya kabur begitu saja, dan dia pun segera mengikuti jejak Ratih.

Sedetik kemudian, sebuah suara pun menusuk gendang telinga Raguel.

“Berhenti, Raguel!”

Hanya dalam satu perintah, tubuh Raguel benar-benar berhenti. Itu seperti menghipnotis seseorang yang hanya sekali sentuh langsung tertidur. Tubuh Raguel bagai dililit benang, dan tak bisa bergerak ke manapun.

“Apa, Michael?! Jangan mencoba menggangguku!”

“Kau ingat bahwa kau sedang mengemban misi penting?” tanya Michael. “Kau hanya butuh kurang dari lima menit lagi.”

“Ergh!”

Raguel mengerang, sementara itu Ratih sudah berhasil mencapai Chika, dan membopongnya pergi menjauh. Nampaknya mereka berdua mundur dari medan pertempuran.

“Baiklah, Michael, aku berjanji,” jawab Raguel. Dan seketika itu Raguel dapat bergerak kembali. “Rumah sakitnya di sana, ya? Empat menit itu lebih dari cukup.”

Hanya dalam kedipan mata, Raguel sudah hilang dari langit. Yang tersisa hanyalah jejak apinya saja.

Sementara itu di tempat Ratih, dia kini sudah mencapai balkon apartemen dengan kucing hitam yang telah menunggu.

Kucing hitam itu melihat pertarungan mereka. Memang benar seperti dugaannya, bahwa tentu hanya malaikat kuatlah yang diutus Metatron membawa grand grimoire.

Kondisi Chika tak sadarkan diri. Berulang kali Ratih memompa dadanya, bahkan memberi napas buatan, namun Chika belum juga sadarkan diri.

“Bangun, Chika! Kau tak boleh mati!”

Teriakan itu terdengar jelas di telinga Chika, namun dia tak bisa menjawabnya. Dirinya sekarang berada dalam dimensi lain, sebuah dunia di mana dulu semua kenang indah masih terukir.

Kala itu, kedua orang tua Chika membelikannya es krim vanila. Dengan wajah gembira Chika menjilat es krim tersebut, lalu berjalan ke taman kota.

Ini ingatan lama, kira-kira saat Chika masih kelas lima di bangku sekolah dasar. Pasangan itu masih terlihat harmonis, akur seperti suami-isteri pada umumnya. Saling bergandengan tangan, berjalan dengan Chika yang berada di tengah.

Semua keinginan Chika dikabulkan, apa yang Chika mau pasti mereka belikan walau permintaannya aneh-aneh.

Lalu tiba-tiba layar televisi itu retak, pecah menjadi puing-puing.

Kini tayangan itu muncul lagi, beralih ke zaman kelas tiga SMP.

Dengan marah, ayah Chika meminta dibikinkah kopi hitam. Setelah jadi dan siap disajikan, kopi itu lalu dicicip.

Gelas itu dibanting seketika, beling itu pecah berhamburan di atas lantai. Lalu satu tamparan keras mendarat di pipi Chika.

“Kamu bisa bikin kopi apa enggak? Tau ini kurang manis?!”

Chika hanya bisa menunduk menangis sambil memegang bekas tamparan itu. Padahal sebelum dibawa pada ayahnya, Chika sudah mencicipi kopi tersebut, dan terasa manis. Entah karena selera mereka berbeda, atau ayah Chika hanya mencari alasan untuk melampiaskan amarhanya.

Ingatan ini kembali menimbulkan trauma mendalam. Sosok ayah di benaknya saat ini bagai monster besar yang hendak melahapnya hidup-hidup.

Layar televisi itu pecah kembali, dan menyiarkan channel baru.

Masih kelas tiga SMP, keributan di ruang tamu itu sangat menendang gendang telinga. Ayah dan ibunya saling mencaci-maki, Bahasa kebun binatang keluar dari mulut mereka.

Chika hanya duduk merenung memeluk lutut, menyandar pada kulkas dengan mata yang berkaca-kaca. Kemarahan mereka yang tepat terjadi di depan matanya ini benar-benar menanam kebencian, luka, juga trauma.

Dia hanya dapat melihat, melerainya pun percuma, yang ada dirinya nanti hanya ikut terlibat dan menjadi bahan pelampiasan lagi.

Beberapa kali terdengar suara piring dan gelas pecah, lalu tamparan yang terdengar nyaring mendarat di pipi ibunya. Pria itu tanpa dosa langsung meninggalkan rumah. Menyalakan mesin mobil, lalu entah pergi ke mana. Sementara itu ibu Chika mengunci diri di dalam kamarnya.

Tak bisakah mereka berdamai? Apakah mereka tak merasa lelah dengan semua ini? Keegoisan mereka hanya mendorong ke arah jurang gelap itu, yang mana Chika sudah lebih dulu mencapai dasarnya.

Chika yang melihat bayangan masa lalu kelamnya ingin sekali berteriak, namun dia tak bisa. Tenggorokannya dingin, seakan ruh dan raganya akan terpisah. Dada pun terasa sesak.

Namun sekali lagi, cahaya terang itu pun muncul.

Ratih senang sampai menangis, lalu dirinya pun memeluk Chika dengan rasa syukur. Kucing hitam itu juga lega bahwa satu prajuritnya berhasil terselamatkan.

“Kau bodoh! Bodoh sekali!” bentak Ratih. “Hampir saja kau mati konyol!”

Chika yang masih terbaring hanya ternyum memandang gadis berambut panjang yang masih terus mendumel cerewet.

“Eh, lo senyum?!”

Ratih kali ini yang terkejut.

Belai lembut tangan Chika itu mengelus pipi Ratih, membasuh air matanya. Bersyukur bahwa teman terdekatnya yang sudah dia anggap sebagai keluarga tidak mati, karena hanya Ratih satu-satunya harta terindah miliknya sekarang.

Kebahagian Ratih harus dijaga, begitupun juga hidupnya. Chika akan mempertaruhkan apapun untuk Ratih. Tak ada siapapun yang boleh menyakitinya.

“Hei, kok malah bengong, sih?”

Chika menggeleng.

“Aku senang kamu selamat.”

“Justru gue yang bersyukur lo ga mati konyol!”

“Terserah. Hahaa…”

Dalam hati Ratih juga merasa senang. Entah kapan dia terakhir kali melihat Chika tersenyum, tapi hari ini senyuman itu kembali terlukis di wajah cantiknya. Sebuah senyuman yang seharusnya ada setiap hari, setiap saat, setiap waktu.
            Kekuatan astral itu hilang, mereka berdua kembali ke dalam tubuh manusianya.
“Ternyata Raguel.”
“Kau mengenalnya, Rofocale?”
“Ya,” jawab si kucing hitam. “Dia adalah salah satu bawahan Michael, Sang Pangeran Perang. Tak heran jika kekuatannya sangatlah hebat, berbeda dari malaikat lainnya.”
Chika mencoba bangun, lalu duduk menghadap kucing hitam.
“Aku merasa bahwa tadi bukanlah aku.”
“Bener,” ungkap Ratih. “Kayak ada menara gelap yang turun dari langit, terus angin tiba-tiba ngelempar Raguel.”
“Pengumpulan grimoire kalian berdua memang tidaklah sia-sia,” jawab Rofocale.
“Jadi itu ulah grimoire yang kau simpan?”
“Grimoire itu bereaksi saat kau meluapkan emosi. Terang saja, aku belum pernah melihat kejadian ini sebelumnya, tapi ini patut diteliti lebih lanjut.”
Chika berpikir bahwa emosi itu muncul karena ingin menolong Ratih, harta satu-satunya yang dia punya.
“Jadi, dengan kata lain, kita nggak bisa mengontrol pemakaian kekuatan grimoire?” tanya Ratih.
“Karena grimoire pada umumnya hanya sebuah data tanpa otak, pemakainya tidak bisa mengontrol dari jauh, kecuali memegangnya langusung. Aku juga masih belum tahu ini bisa terjadi,” jelas si kucing hitam.
“Begitu, ya.”
“Kalau begitu, kalian beristirahatlah. Malam ini sudah cukup.”
Selesai mengakhiri kalimatnya, kucing hitam itu segera berjalan memasuki kamar, lalu tidur di kasur Chika.

***

Di aula besar dekat pintu masuk Istana Adam, Michael berdiri memandang lukisan. Dari telinganya terdengarlah suara ketukan langkah kaki yang mencoba mendekat. Saat ditengok, dialah si pemilik pedang gergaji, Raguel.
Raguel datang hendak melapor bahwa misi yang diberikan Metatron sukses terlaksana, dan manusia tersebut dapat sadar dari komanya.
“Kau tak perlu berbicara,” kata Michael saat bibir Raguel baru saja hendak terbuka. “Selamat atas tugasmu, satu nyawa berhasil terselamatkan malam ini, dan aku telah melapor pada Metatron.”
“Erh, ya sudah. Kalau begitu aku pergi dahulu.”
“Tunggu.”
Baru saja berbalik badan, dia dipanggil kembali.
“Hee? Apalagi, wahai Michael?”
“Bagaimana rasanya bertarung dengan mereka?”
Raguel mencoba mengingat pertarungan yang belum lama terjadi.
“Mereka benar-benar mewarisi kekuatan iblis,” jawab Raguel. “Mereka dapat terbang, melakukan sihir, dan hal-hal di luar nalar dan kekuatan manusia. Mereka persis seperti iblis yang telah binasa ribuan tahun lalu.”
Michael menggaruk dagunya. “Begitu, ya. Kalau begitu sekarang kau kuberikan tugas untuk bertemu dengan Sandalphon, dan bertukar informasi tentang ini.”
“Dia, ya? Baiklah. Sekarang aku akan bertemu dengannya.”
Dan Raguel pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari sini.
Michael kembali memandang lukisan. Bukan mengagumi keindahannya, namun dia memikirkan bagaimana si ‘iblis terakhir’ itu dapat membangkitkan iblis yang telah lama mati, lalu memberikan kekuatannya pada manusia.
Tidak salah lagi, pencurian grimoire akhir-akhir ini adalah ulahnya. Karena banyaknya malaikat yang mati dalam perjalanan, dan grimoire itu tidak sampai pada manusia, yang menjadikan manusia tersebut tidak sembuh dari sakitnya, bahkan sampai koma.
“Rofocale…, kau menyebalkan!”

0 komentar:

Posting Komentar