Selamat datang di blog kepenulisan. Silakan menimba ilmu di sini dan jangan copy-paste.

"Keep writing and play your imagination" Yudha Pasca

Join Us On : LightNovel.ID


Selasa, 11 Juli 2017

The Codex of Lucifer: Chapter 04 - Searching








'Searching'


Sejak menginjak bangku SMA, keadaan emosi Chika tidak stabil.

Rasa sedih selalu datang saat dia melihat seorang anak yang bahagia bersama orang tuanya. Di sana dia lalu berdiri menangis. Rasa iri itu tertanam, menjamur, berbuah, bermekaran. Juga saat melihat ada anak kecil yang dimarahi orang tuanya, Chika segera memalingkan wajah, terduduk pada muka jalan, dan tak berani melihat adegan itu.

Semua trauma masa lalunya membekas erat, dan tak mau hilang. Ibunya Ratih pun sampai membujuk Chika ke psikiater, dan untungnya gadis itu mau menurut.

Psikiater tersebut memberikan motivasi untuk Chika, bahwa masih ada Ratih yang masih sayang padanya. Ucapan itu menjadikan Ratih sebagai sosok penting dalam hidupnya, dan Ratih adalah sosok yang tak boleh hilang, rusak, juga mati.

Ratih adalah emas, Ratih adalah mutiara. Oleh karena itu, dengan berani Chika mempertaruhkan nyawanya saat Ratih hendak mati oleh ayunan pedang Raguel.

Dan psikiater itu juga memberikan obat penenang, obat yang harus diminum rutin tiap hari pada jam yang sama. Jika habis, Chika dapat mengambilnya lagi, dan semua yang membayar biaya itu adalah ibunya Ratih.

Ibunya Ratih nampak kasihan pada Chika, padahal Chika adalah anak yang selalu berprestasi di sekolah, namun sayang dia tidak mendapat kasih sayang orang tua saat dirinya beranjak remaja.

Sejak saat itu, Dr. Hani sudah dianggap dokter pribadinya. Begitupun Dr. Hani yang sudah menganggap Chika adalah anak sendiri, karena Chika hanya mau bercerita seluruh pengalaman kelam padanya.

Obat penenang itu diberikan dalam bentuk kapsul, jadi Chika dengan mudah dapat membawanya, bahkan jika untuk bepergian jauh, Dr. Hani juga menyarankan agar Chika tak lupa membawa obat itu ke manapun dia pergi.

Sampai saat ini Chika masih mengkonsumsi obat tersebut, alasannya karena bayang-bayang kelam itu masih menghantuinya. Sebenarnya, satu atau dua bulan saja sudah bisa meredakan trauma tersebut, namun entah kenapa itu tak berpengaruh padanya.

Tiap pagi sebelum berangkat sekolah Chika meminum obat itu, lalu terakhir pada jam sebelum tidur. Dia selalu meminumnya di saat jam yang sama sesuai anjuran Dr. Hani.

Namun di pagi ini, obat itu tinggal tersisa satu butir di tangannya. Chika menghela napas, berarti setelah pulang sekolah dia harus menemui Dr. Hani.

Ditengguknya kapsul tersebut dengan bantuan segelas air, setelahnya dia pun berpamitan dengan kucing hitam, lalu bergegas pergi menuju sekolah.


***


Sebuah kuil besar berdiri kokoh di puncak gunung. Bangunan tua dari bata besar itu bagai negeri di atas awan, karena banyaknya kabut yang mengelilingi dataran tinggi ini.

Makhluk berjubah hijau itu terlihat sedang menulis sesuatu di atas meja. Dia nampak fokus dengan pekerjaannya, begitu tenang dengan sepasang sayap yang terlipat. Hingga sampai sebutir debu terbang, dia pun sadar bahwa ada sesuatu yang datang mendekat.

Dialah malaikat berjubah merah, Raguel yang diutus Michael untuk menemui Sandalphon di kuil ini.

“Masuklah,” kata Sandalphon.

Raguel mendekati mejanya.

“Ada yang ingin aku laporkan.”

“Ada berita dari surga atas? Atau kekacauan di hutan dan di langit? Atau hal lainnya?”

“Lebih parah dari itu.”

“Eh?”

Jawaban Raguel menghentikan aktivitas malaikat berambut biru itu.

“Aku baru saja melawan dua iblis yang saat ini sedang kau cari informasinya.”

“Kalau begitu ceritakan itu padaku, wahai Raguel.”

“Iblis yang pertama memiliki rambut pendek bersenjatakan pedang besar dengan dua mata pisau, dan yang kedua iblis berambut panjang yang bersenjatakan sabit,” jawab Raguel. “Mereka berdua adalah mempunyai kekuatan iblis yang dulu telah lama mati.”

“Yang ingin aku tahu adalah bagaimana mereka bisa terlahir kembali, dan bagaimana dalang dari semua ini dapat melakukannya dalam tempo waktu kurang dari empat bulan, sedangkan peperangan kita melawan mereka itu sudah lebih dari lima ribu tahun lamanya.”

“Untuk itu aku belum tahu. Aku hanya tahu cara berkelahi mereka, dan kekuatan yang mereka miliki.”

“Lanjutkan.”

“Iblis wanita berambut pendek memiliki elemen angin, sedangkan yang berambut panjang memiliki elemen petir. Kedua energi mereka bermuatan negatif yang membawa aura gelap saat elemen itu dipakai dalam bertarung.”

Sandalphon memperbaiki posisi duduknya. “Jika ditilik dari sejarah terdahulu, tak ada iblis yang memakai elemen negatif itu, benar bukan?”

“Aku juga tahu, tapi…, kau benar. Semua ini masih janggal. Kita kekurangan informasi.”

“Jika hanya itu saja yang dapat kau laporkan, aku sangat berterima kasih padamu. Informasimu itu sangat penting bagi diriku dan seluruh anak buahku.”

“Senang bisa membantumu, wahai Sandalphon.”

Raguel menundukkan badannya, lalu berbalik badan dan pergi dari kuil ini, kembali menuju Taman Firdaus.

Kembali menyalin laporan, Sandalphon semakin penasaran akan sosok siapakah dalang dari semua ini, juga bagaimana dalang tersebut ‘memproduksi’ iblis baru sebagai pasukan.


***


Ruangan bercat putih ini terasa dingin, sepertinya ac disetel di bawah suhu dua puluh derajat. Untung saja Chika selalu memakai jaket ke manapun dia pergi, jadi tubuhnya masih bisa merasakan kehangatan.

Pintu coklat bergagang besi itu terbuka, seorang wanita masuk dari ruangan lain, lalu duduk di mejanya. Kini Chika bertatap muka dengan wanita tersebut.

Berkaca mata dengan rambut dikuncir ekor kuda, dia nampak sepuluh tahun lebih muda, yang padahal Januari kemarin usianya telah menginjak empat puluh lima tahun. Juga dia mengenakan jas putih panjang menjuntai hingga lutut, dan alat pendeteksi detak jantung mengalungi lehernya.

Terdapat tulisan ‘Dr. Hani’ di dada. Terlihat dia membawa pulpen dan sekantung plastik obat berisi kapsul biru.

Dengan dingin dia bertanya, “Kamu minum lebih lagi, ya?”

Tak mampu menjawab, Chika hanya menundukkan kepala. Kedua tangannya juga terlihat menjambak rok abu-abu yang masih dikenakan. Alasannya karena trauma itu muncul lagi, terlebih saat kemarin malam Chika menengguk lima sampai eman kapsul sebelum tidur.

“Maaf.”

Hanya itu yang keluar dari mulut Chika, sementara Dr. Hani membalasnya dengan senyum tipis.

“Ibu harap jangan terulang lagi, yah.”

Chika mengangguk pelan. “Iya.”

Kemudian Dr. Hani menyodorkan obat tersebut, dan Chika meraihnya.

“Sekolahmu bagaimana?”

“Tadi pembagian ulangan matematika minggu kemarin.”

“Dan hasilnya?”

“Seratus.”

“Chika pintar, yah,” puji Dr. Hani tersenyum. “Nanti lulus SMA mau lanjut kuliah?”

“'Kan masih kelas dua, Chika masih belum mikir. Gimana kata papah-mamah aja nanti.”

“Begitu, ya. Nanti Ibu ngomong ya sama papah-mamah kamu?”

“E-eh, nggak usah,” jawab Chika sambil menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu.”

“Lho, kenapa?”

“Chika takut kalau nanti mereka marah.” Nada suaranya melesu.

“Jadi kamu masih takut sama mereka, ya?”

Chika mengangguk pelan.

“Yaudah kalau begitu, mungkin Chika yang harus ngomong langsung ke papah-mamah. Oh ya, minggu ini udah coba ketemu mereka?”

Chika menggeleng.

“Lho, temuin, dong. Mungkin aja mereka kangen.”

“Takut,” jawab Chika, rona cantiknya itu disembunyikan kembali. “Kalau seandainya kangen, mereka pasti menelpon Chika, ‘kan? Tapi…, nggak pernah ada panggilan sama sekali.”

Dr. Hani menghela napas. “Mungkin butuh waktu lebih lama lagi, ya. Tapi kalau kamu terus-terusan takut, kamu nanti malah semakin jauh, lho dari mereka.”

Chika terdiam, sementara Dr. Hani terus melanjutkan.

“Kalau kamu jadi seorang ibu nanti, apa mau anak kamu jauh dari kamu? Nggak ngasih kabar ke kamu? Coba nanti kalau ada keberanian, kamu yang kabarin mereka duluan, jangan terus-terusan menunggu.”

“Iya.”

“Kalau belum berani, jangan dipaksa,” bujuknya lagi. Sebelum melanjutkan, dengan tangannya Dr. Hani pun membelai wajah Chika yang tertunduk. “Kamu itu cantik, pintar. Kamu berhak mendapat kasih sayang mereka, sentuhan mereka. Kalau kamu sendiri, Ibu takut kamu salah arah saat dewasa nanti.”

Chika menatap mata Dr. Hani. Bersih dan tulus. Pandangan mata itu penuh kasih sayang. Bahkan Chika berharap Dr. Hani lah yang berperan sebagai ibunya.

Dr. Hani sangat baik, Chika merasa dia adalah pasien spesialnya.

Rasa malu ini muncul, dan pipi Chika merona merah. Dia mencoba memalingkan wajah dari tatapan Dr. Hani.

“Chika…, masih punya Ratih, kok.”

Melihat reaksi itu membuat Dr. Hani tertawa geli. “Kamu lucu juga, ya. Hahaa…”


***


Denting jam berbunyi, mengingatkan bahwa sekarang sudah tepat pukul sembilan malam.

Ratih membuka kulkas, dan hanya mendapat kurang dari setengah botol stok sisa darah malaikat. Digoyangkan botol tersebut, tentu ini kurang untuk sarapan esok hari.

Geez, malam ini harus berburu,” desahnya. Pintu kulkas pun ditutup kembali, dan dengan rakus dia menengguk semua darah itu tanpa gelas.

“Habis, ya?”

Chika berbicara di belakangnya, diikuti oleh Rofocale yang masih dalam wujud kucing hitam.

“Eh? Ya,” jawab Ratih singkat. “Mau tidak mau kita harus berburu malam ini.”

Rofocale bertanya, “Boleh aku meminta sesuatu?”

“Apa?”

“Tiga puluh malaikat untuk malam ini.”

“Hah?!”

“Kenapa?” Rofocale memasang tampang bingung. “Bukankah itu mudah bagi kalian?”

Chika menggaruk pipinya. “Mudah, sih.”

“Tapi kenapa harus tiga puluh?”

“Karena seharusnya tiap malam harus dapat lima. Sedangkan beberapa hari terakhir hanya dapat sedikit.”

Ratih mengeluh sambil menggaruk rambut panjangnya. “Ergh, baiklah. Baik. Karena kami punya utang budi padamu.”

“Baguslah kalau kalian tahu.” Segeralah Rofocale balik badan dan menaiki kasur.

Chika dan Ratih mengambil peralatan upacara seperti biasa, lalu lampu dimatikan. Dalam hening dan gelapnya kamar, mereka berdua merapal mantera hingga air tersebut berubah warna layaknya darah.

Air ditumpahkan perlahan di atas kepala si kucing hitam, dan seketika dia pun membuka segel untuk merubah Chika dan Ratih ke bentuk astralnya.

Lepas itu dengan sepasang sayap hitamnya, mereka berdua pun terbang meninggalkan kamar ini.

Perburuan dilakukan. Agar tugas ini cepat selesai, mereka pun berpencar masing-masing ke segala arah. Jika diamati, di sekitaran Jakarta sedang ada banyak malaikat yang membawa grimoire jauh dari surga.

Menyadari hal itu, mereka langsung bertindak cepat.

Tebas, tangkis. Terbang menghindar, lalu balik menyerang. Ratusan petir menyambar di langit malam kota Jakarta hanya karena ulah mereka berdua mengusik pekerjaan para malaikat.

Terkepung. Satu lawan banyak membuat Ratih sedikit kewalahan, bahkan tanpa sadar sesosok malaikat sudah berdiri di belakang. Saat menyadari hal itu, dia pun menyambarkan petir hitam padanya.

“Ergh!” Ratih mengerang.

Meleset, malaikat itu tak jadi melancarkan serangan dan terbang menghindar. Momen singkat ini pun dimanfaatkan oleh malaikat lain yang datang mendekat dengan tombak gunturnya.

“Cih! Sial!”

Satu tebasan dilayangkan oleh malaikat berambut jingga. Walau serangan tadi meleset, namun lengan Ratih sedikit tergores dan membekas luka.

Tak mau tinggal diam, dengan kekuatan iblis—Ratih pun memanggil petir hitam yang membalut sabitnya, menjadikan ukuran sabit itu lebih besar dari ukuran normal. Setelah itu dia lalu terbang mendekati mereka.

Kini Ratih memilih melakukan pertarungan jarak dekat. Dengan lihai sabit diayunkan, mencabik para malaikat hingga mereka tewas satu per satu. Beberapa malaikat nampak kini kewalahan menghadapi Ratih yang hanya seorang diri.

Melihat bahwa malaikat di sekitarnya malah bertambah banyak, Ratih kini mengacungkan sabit itu ke atas, dan seketika petir hitam besar pun merespon doanya.

“Matilah kalian!” teriak Ratih menjerit. Atau lebih tepatnya mengutuk.

Lalu awan terlihat lebih gelap dari biasanya.

Dari sabitnya keluarlah puluhan petir hitam dalam skala besar, menyambar ke segala arah dengan membabi-buta, tak memandang mana kawan mana lawan.

Badai petir menyambar hebat tiap-tiap malaikat di dekatnya. Beberapa lari ketakutan, namun naas tidak ada satu pun dari mereka yang selamat. Mereka mati dengan tubuh hitam terbakar, dan grimoire yang dibawa terlepas dari penjagaannya.

Di samping itu Chika juga sedang berseteru dengan tujuh belas malaikat.

Menebas dan menghindar, sering kali para malaikat itu tak bisa membaca gerakan Chika, hingga darah segar mereka membasahi mata pisaunya.

Seakan menari di atas langit, tekhnik bertarungnya sangatlah unik. Jika Ratih mengandalkan kekuatan, Chika justru mengandalkan kecepatan.

Beberapa kali dia berhasil menghindari sambaran petir, lalu dengan mudahnya dia muncul di belakang malaikat, dan membelah tubuh mereka layaknya mengupas kulit apel.

Terlalu mudah baginya merebut grimore dari mereka. Tubuh Chika yang mungil mungkin juga salah satu faktor yang mendukung dia untuk terbang bebas bermanuver di udara.

Satu per satu malaikat itu mati, sayap-sayap mereka patah. Hingga satu jam lamanya mereka terbang di udara, tak ada malaikat lagi yang terlihat sejauh mata memandang.

“Hah, melelahkan,” keluh Ratih mengusap kening dengan lengannya.

Tak lupa, mereka berdua memberi sigil pada semua jasad itu. Terbang dan terteleportasi. Setelahnya mereka lekas kembali ke apartemen dengan banyak sekali membawa grimoire yang dipesan.

“Bagus sekali pekerjaan malam ini,” puji si kucing hitam setelah kedua gadis tersebut mendarat pada balkon apartemen. “Makan lah sekenyang kalian.”

Alangkah terkejutnya mereka berdua, jasad semua malaikat itu ternyata sudah bergeletakkan di atas lantai apartemen. Bahkan bukan seperti jasad lagi, dalam pandangan mereka, jasad tersebut sudah seperti tumpukkan mi ayam yang sudah siap saji untuk disantap.

Perut Chika dan Ratih sudah berbunyi. Mengikuti insting liarnya, dengan rakus mereka berdua pun segera menyantap hidangan makan malam yang tersaji gratis.

Kini kucing hitam bermain dengan griomoire-nya yang mungkin berjumlah lebih banyak dari pada yang dia pesan. Seperti melihat tumpukkan emas, bibir itu menunjukkan taring pada senyumnya.

Dia memejamkan mata, lalu mantera dirapalkan. Telur bercahaya biru itu perlahan menghitam, sebuah energi positif telah berubah menjadi negatif.

Mantera dirapalkan untuk kedua kalianya. Sedetik kemudian semua grimoire itu pun menghilang, entah ke mana dan di mana dia menyembunyikannya.

“Sudah kenyang?” tanya Rofocale saat membalikkan tubuhnya menatap pada kedua gadis tersebut.

Tak ada jawaban, Chika dan Ratih masih dengan rakus menghisap langsung darah malaikat dari tubuhnya. Bahkan membekas merah pada bibir, berjatuhan hingga leher. Dan dari pemandangan inilah sisi kemanusiaan mereka nampak hilang, berubah seperti vampir yang haus darah.

“Hah, ya sudah. Aku tidur dulu.”

Rofocale lalu melipat tubuhnya, dan bergegas tidur.


***


Angin nakal mengibas rambut Raguel ke kiri-kanan. Di malam ini dia masih berkeliaran melakukan tugasnya, terbang dari surga turun ke bumi membawa grimore untuk para manusia yang membutuhkan.

Saat melewati kawasan Gambir, hidungnya mengendus bau nyengat darah yang tak lain adalah darah malaikat. Dia menduga bahwa belum lama ada pertarungan di dekat sini, karena jatuhnya darah malaikat tentu disebabkan oleh serangan iblis.

Di bawah sana, dia melihat tongkat guntur yang tergeletak memancarkan cahaya emas. Dengan rasa penasaran, Raguel pun segera terbang menukik memungutnya. Dan benar saja sesuai dugaan, ujung tongkat itu berbekas darah.

“Iblis!”

Setelah menciumnya, dia pun kenal betul darah itu. Bukan darah malaikat, melainkan musuh abadi mereka. Bau darah yang sama, darah yang tumpah membanjiri Taman Firdaus lima puluh ribu tahun yang lalu.

Menyadari hal itu, Raguel pun nampak murka, raut wajahnya benar-benar marah. Sudah pasti banyak teman-temannya yang terbunuh malam ini.

Andai dirinya datang lebih awal, pasti mereka tak mati sia-sia. Dan dia sekarang mengutuk dirinya sendiri. Namun percuma, mengutuk iblis-iblis itu tak akan membuat teman-temannya kembali bangkit dari kematian.

“Ini barang berharga, aku harus memberitahukannya pada Sandalphon.”

Raguel pun terbang ke langit melanjutkan tugas yang diberikan oleh Metatron, dan membawa pulang tongkat guntur tadi. Satu yang dia harapkan, darah ini dapat mengidentifikasi siapa sebenarnya iblis tersebut.

“Tunggu saja, dasar hama!”


0 komentar:

Posting Komentar