Selamat datang di blog kepenulisan. Silakan menimba ilmu di sini dan jangan copy-paste.

"Keep writing and play your imagination" Yudha Pasca

Join Us On : LightNovel.ID


Senin, 10 Juli 2017

The Codex of Lucifer: Chapter 02 - Rofocale And His Mission









'Rofocale And His Mission'


Di suatu tempat bertembok putih, Istana Adam. Sebuah bangunan super megah ini hampir tak terlihat atapnya, dia menjulang tinggi menusuk langit surga yang berlapis-lapis.

Di Taman Firdaus ini, Istana Adam adalah bangunan paling besar, rumah para malaikat menerima dan melaporkan tugasnya pada malaikat tertinggi, yang lalu akan disampaikan pada Tuhan.

Saat ini di sebuah ruangan, sesosok malaikat berambut emas dengan sepasang sayap putihnya terlihat sedang memandangi sebuah patung besar. Malaikat itu memakai jubah biru panjang dan rompi putih sepinggang.

Bola matanya seakan kosong, terlihat dia tidak terfokus pada indahnya pahatan patung, melainkan suatu hal yang mengganjal di pikirannya.

 “Uriel, apa yang sedang kau pikirkan?”

Sahutan itu memecahkan lamunan. Dia adalah malaikat berambut pendek yang terlihat mengenakan rompi putih berjubah merah.

“Oh, Raguel,” balasnya. “Tidak. Bukan apa-apa.”

“Tidak apa-apa tapi memandangi patung itu lebih dari tiga menit? Jangan konyol.”

Uriel menggaruk kepalanya sebelum menjawab. 

“Aku gelisah. Akhir-akhir ini grimoire kita dicuri, dan kau tentu tahu bukan siapa pencurinya?”

“Ya.” Raguel menjawab tegas. “Sudah lama. Lama sekali dia tidak menampakkan wajahnya setelah Lucifer mati.”

“Lima puluh ribu tahun, sebuah penantian panjang. Lalu dia kini menunjukkan taringnya kembali. Benar-benar sebuah pengabdian.”

Kini Raguel juga ikut gelisah. Dia menggaruk dagu lancipnya.

“Dua iblis yang dilaporkan Sandalphon adalah reinkarnasi dari mereka yang telah mati.”

“Reinkarnasi?” tanya Uriel bingung, memiringkan kepalanya.

“Sandalphon yang sekarang sedang berada di bumi sedang mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Aku harap ini segera diselesaikan. Semua iblis harus musnah sampai akar-akarnya!”

“Tidak perlu gegabah, wahai sahabat-sahabatku.”

Kalimat itu terdengar jernih dan jelas, hingga mereka tahu siapa yang berbicara. Secara refleks, Uriel dan Raguel sedikit menggeser pijakannya.

“M-Michael!”

Dia adalah malaikat tergagah di antara malaikat lainnya. Mempunyai rambut hitam pendek dengan dua titik hitam di kening, berjubah yang juga merah dengan rompi putih, dan tak lupa sepasang sayap perak yang menempel pada punggungnya.

“Kau mengegetkan saja!”

“Maaf, Raguel. Tapi kalian berdua tak perlu tergesa-gesa akan semua ini. Kita percayakan semuanya pada Sandalphon yang sekarang sedang turun ke bumi.”

“Mmh, Michael benar. Sementara itu kita juga sedang diberi tugas oleh Tuhan untuk memperbaiki bumi.”

“Dan ya, Raguel, hari ini kau harus membawa grand grimoire, ya. Metatron menyuruhmu untuk itu,” kata Michael. “Dan kau, Uriel, kurasa kau harus mendampingi anak buahku ini.”

“Heh?!” Raguel terkejut. “Tidak perlu, wahai Michael. Aku sendiri dapat membawa benda tersebut selamat sampai ke bumi pada manusia yang membutuhkan.”

Michael mengangguk pelan. “Baiklah. Semua aku percayakan padamu, Raguel. Manusia itu membutuhkan grand grimoire agar nyawanya selamat tepat pada pukul sebelas malam nanti. Tuhan telah menulis manusia tersebut akan mati, namun doa yang orang terkasihnya panjatkan sangatlah tulus, Metatron merasa manusia itu harus tetap hidup untuk beberapa tahun lagi.”

“Siap! Dimengerti, kapten!” 

“Baik, segeralah menuju Metatron untuk mengambil benda tersebut.”

Dan pada saat itu juga, Raguel pun melangkahkan kakinya pergi dari ruangan ini. Kini tinggalah Uriel dan Michael yang masih tersisa.

“Kau sedang tidak ada tugas, Uriel?”

“Tentu ada,” jawabnya.

“Lalu kenapa diam saja?”

“Hanya saja tugasnya untuk besok. Gedung itu dijadwalkan runtuh pada siang pukul dua.”

“Begitu, ya. Kalau begitu aku permisi dulu.”

Saat sebelum Michael pergi, Uriel pun memanggilnya.

“Tunggu!”

“…”

“Aku merasa firasat buruk akan terjadi pada Raguel.”

“Firasat buruk apa maksudmu, wahai Uriel?”
 
“Entah. Hatiku tiba-tiba berdegup kencang.”

“Tetaplah tenang karena Metatron memberimu tugas besar untukmu esok.”

“Baik.”

Michael lalu melanjutkan langkah kakinya, keluar dari ruangan ini.


***


Jam pelajaran kedua dimulai, namun belum ada satupun guru yang masuk. 

Di dalam kelas bercat putih, gadis keturunan Belanda itu terlihat merenung sendiri. Dengan tangan kiri menopang dagu, dirinya memandang kosong pada lapangan di balik jendela. Mengingat hal yang belum dia mengerti, sesuatu tentang grimoire itu terus terngiang dalam kepala Chika.

Kucing hitam semalam berkata, benda yang menyerupai telur itu menyimpan sejumlah data. Grimoire adalah wahyu yang diberikan Tuhan, lalu disampaikan oleh malaikat, dan diberikan pada manusia. Contohnya seperti malaikat memberi ilmu, rezeki, atau juga kesembuhan dari penyakit, dan grimoire itulah data yang akan memperbaiki manusia tersebut.  

Lalu, rencana pengumpulan data tersebut yang kucing hitam katakan adalah untuk membuat koloni iblis baru, mendapatkan kekuatan, juga mereinkarnasi iblis lainnya.

Jadi…, suatu saat Chika dan Ratih tidak hanya berdua melakukan operasi pembunuhan malaikat? Bisa saja. Tentu itu akan mempermudah pekerjaan mereka, juga dalam mencari makan malamnya.

Rencana si kucing hitam ini masihlah samar di kepalanya. Ada beberapa hal yang harus ditanyakan nanti sepulang sekolah.

Chika mendengus sesaat sebelum berkata dalam hati.

“Jika suatu saat grimoire itu sudah terkumpul banyak, lalu si kucing hitam itu mau apakan?”

Yang mana yang lebih dahulu si kucing hitam prioritaskan masih belum jelas, memang. Sampai saat ini, dirinya dan Ratih hanya mengumpulkan jasad malaikat, lalu memberikannya pada si kucing hitam yang katanya jasad malaikat tersebut dapat dibangkitkan kembali.

"Huh..., membingungkan.”

Dilanjut hingga jam istirahat, lalu ke jam berikutnya hingga bel pulang sekolah berbunyi ke penjuru lorong sekolah.

Para siswa segera merapikan buku mereka, lalu dimasukkan ke dalam tas. Sesudah memanjatkan doa, lekas mereka pun rama-ramai meninggalkan ruangan ini.

Chika masih terdiam di kursinya. Dia seperti biasa keluar paling akhir bersama Ratih. Alasannya karena dia tidak mau berdesakkan dengan mereka. Dirinya merasa tertutup dengan semua, hingga paling susah berkomunikasi dengan teman untuk diajak pulang bersama. Karena itu, sendiri merupakan pilihan tepat untuk keluar paling akhir.

Introvert, katanya. Dia menutup diri dari lingkungan. Hanya Ratih yang mau menjadi temannya, hanya Ratih lah satu-satunya teman di sekolah. Tak ada lagi teman curhat selain gadis berambut panjang asal Bandung itu.

Sepasang kaki itu melangkah maju, dirinya keluar dari kelas dengan Ratih yang telah menunggu di depan pintu. Jika dilihat, kali ini Chika lagi yang keluar paling akhir. Seluruh kelas sudah kosong tak bernyawa.

Mereka berdua menyusuri lorong menuju pintu gerbang, dan harus melewati beberapa kelas dan menuruni anak tangga.

Setibanya di gerbang depan, Ratih berkata, “Oh ya, gue bareng Ronald. Dia baru aja sms gue. Gimana?”

Ronald adalah pacarnya Ratih, walau hanya sebagai ‘boneka’. Mereka berdua telah menjalin hubungan sebelas bulan lamanya.

Chika tak mau tampak egois memetingkan dirinya sendiri, atau dalam kata lain Ratih lebih memetingkan pacarnya ketimbang temannya.

“Iya, gapapa, kok,” jawab Chika.

“Bener ya gapapa?”

Chika hanya mengangguk.

Ratih memang berhak mendapat kebahagian. Pikir Chika, dalam sebuah hubungan pertemanan atau pacaran memang butuh ruang atau jarak. Justru jarak tersebutlah yang nanti akan menimbulkan rindu. Jika terus bertemu dan memetingkan ego, Ratih mungkin akan terkekang oleh Chika.

“Gue duluan, ya!”

Ratih segera berlari ke arah seorang pria yang telah mengeluarkan sepeda motornya. Ronald tampak mengenakan jaket coklat dan helm hitam selaras dengan warna motornya.

Gas ditancap dan mereka berdua pun pergi. Kini tinggalah Chika sendiri…, lagi. Menyusuri jalan, Chika lekas menuju apartemennya yang hanya berjarak tiga ratus meter dari sini.

Kesendirian ini bagai teman setia. Ditinggal oleh orang tersayang, termasuk kedua orang tuanya. Hanya dia yang tahu, hanya dia yang memeluk hangat Chika di saat semuanya pergi, semuanya musnah.

 Sejak saat itu, tersenyum pun susah kalau bukan dari candaan Ratih. Bahkan langka. Chika juga lupa kapan terakhir dia tersenyum bahagia.

Semua sirna ditelan api, dia terjebur ke dalam Tartarus, jurang kegelapan yang tak bertepi. Semua kenangan indah kala kanak-kanak itu bagai mimpi, seakan semua hanya imajinasi liar bersama kedua orang tuanya.

Mereka…, sekarang terasa jauh…, tak seperti dulu.

Sudah setahun lebih pasangan suami-isteri itu telah pisah rumah, namun belum berstatus cerai. Yang menjadi bahan pelampiasan adalah Chika seorang karena dia adalah anak satu-satunya.

Pernah kala itu Chika ditampar habis-habisan oleh ayahnya hanya karena salah membelikan obat, juga disiram oleh air satu ember oleh ibunya karena hari itu Chika tidak memasak. 

Emosi ayah dan ibunya seperti manusia kesetanan. Selama berada di rumah, Chika tak pernah aman, dia selalu dicaci-maki oleh kata-kata kasar. Itu membuat dirinya tertekan, seakan ingin keluar saja dari rumah itu. Namun dia sadar tak punya tujuan untuk pergi, lalu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah walau dia tahu hari esok tetaplah sama seperti hari ini, dan kemarin.

Chika itu bagai jembatan untuk ayah dan ibunya. Bukan jembatan untuk berkomunikasi, namun jembatan untuk pelampiasan. Jika ayahnya belum puas mencaci ibu, Chika lah yang lalu menjadi bahan omelan, bahkan kekerasan fisik. Begitu juga jika ibunya tidak puas mencaci sang ayah. Semua itu berlajut setiap harinya.

Bunuh diri…, tidak. Itu bodoh, pikir Chika. Namun itu adalah opsi terakhir yang ada di kepalanya. Tali tambang pun telah siap ditaruh di bawah kasur.

Saat memasuki SMA, dirinya meminta untuk tinggal sendiri dengan alasan ingin fokus belajar untuk sampai perguruan tinggi. Itu juga meminta dengan memohon sangat, mengemis pada ayah dan ibunya. Dan lalu permohonan tersebut berhasil. Kini dia tinggal di apartemen yang sama dengan Ratih.

Kabarnya setelah Ratih pergi meninggalkan rumah, ayahnya juga pergi dan menyewa apartemen di tempat lain yang dekat dengan kantornya, dan ibu Chika tinggal sendiri. Mereka berdua fokus terhadap karir. Yang dicari hanya uang, uang, dan uang sampai anaknya sendiri terabaikan, tidak mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Keadaan ini membuat Chika iri pada Ratih, pada semua orang yang masih mempunyai kedua orang tua utuh, harmonis rumah tangganya. Jika melihat mereka semua, ingin rasanya Chika menangis, menjerit keras hingga air mata membanjiri pipinya.

Merasa Tuhan itu tak adil, manusia selemah dirinya harus ditempatkan di posisi ini, memerankan tokoh sebagai Chika si cupu dan tak mempunyai teman seperti sampah masyarakat. Semua seakan menjauh, semua jauh dari harapan.

Hidup sendiri itu tidak enak.

Tak terasa dia sudah sampai di depan pintu apartemennya, kamar nomor 156.


***


“Berburu lagi?”

Ratih tengkurap di atas kasur berselimut putih, kakinya mengayun naik-turun saat bertanya pada Chika.

“Kurasa tidak,” jawab Chika. “Makanan kita masih penuh di kulkas.”

“Jadi, kalian berburu hanya untuk makanan?”

Kucing hitam itu naik ke atas kasur, dekat dengan Ratih.

“Hai, kucing hitam, aku penasaran, grimoire yang kami kumpulkan itu untuk apa?”

“Bukankah kemarin aku sudah menceritakan?”

“Tidak.” Chika menggelengkan kepalanya. “Kurang spesifik, lengkap.”

“Jadi kalian benar-benar penasaran, ya?” Kucing hitam itu memasang wajah serius. “Misiku sebenarnya adalah untuk membangunkan Lucifer!”

Chika dan Ratih terkejut.

“Lucifer? Siapa dia?”

“Dia adalah rajaku, Raja Kegelapan. Raja dari semua iblis.”

“Jadi dia telah mati? Kapan?”

“Kurang lebih lima puluh ribu tahun lalu, saat Perang Suci memperebutkan tahta suci Istana Adam. Metatron, pemimpin malaikat itulah yang membunuh Lucifer dengan api emasnya.”

“Metatron…, sekuat itu, kah? Lalu Istana Adam, itu di mana?”

Kucing hitam itu menegadahkan kepala pada langit-langit kamar sebelum menjawab.

“Taman Firdaus, surga.”

Ratih tersentak. “E-eh, jadi surga itu memang ada, ya? D-dan kau juga pernah ke sana?”

“Tentu ada, dasar manusia lemah. Memangnya apa yang kau pelajari di sekolah selama ini, hah?

“Jadi, siapa kau, kucing hitam?” tanya Chika. “Apa hubunganmu dengan Lucifer hingga kau mau membangkitkannya kembali?”

“Aku Rofocale, iblis tangan kanan Lucifer.”

“Tangan kanan? Lalu kenapa bisa kau tak mati seperti iblis lainnya?”

“Aku memakai sihir teleportasi menuju bumi sebelum Metatron mengibas sayap besarnya. Setelah kejadian itu aku kembali ke sana, dan melihat semua iblis telah mati…, termasuk Lucifer,” jawab si kucing hitam. “Dendam ini harus dibalaskan!”

“Lalu kenapa kau merekrut kami sebagai anak buahmu? Mereinkarnasi iblis dalam tubuh kami.”

“Kalian berdua seharusnya sudah mati.”

“Heh?!”

Mereka berdua tercengang kembali.

“Apa maksudmu? Bagaimana bisa?”

“Jadi kalian lupa, ya? Wajar jika ingatan itu hilang,” kata si kucing hitam. “Ratih yang seharusnya sudah mati tertabrak mobil, lalu Chika yang mati overdosis obat. Kalian berdua saat di ambang batas antara hidup dan mati, aku datang menawarkan sesuatu, dan kalian setuju.”

“Tawaran apa itu?” tnaya Ratih.

“Menjadi budak iblis.”

Sesaat kemudian, kepala mereka seperti terserang sesuatu. Seperti sebuah tusukan tajam dari kanan menembus bagian kiri kepala. Pusing rasanya.

“Jadi, kalian sudah sadar.”

Chika yang menjambak rambutnya itu menjawab, “Itu…, ingatan itu…, aaaaaakh!”

Teriakan lalu menggema seisi kamar. Ingatan kelam itu kembali muncul, seperti Chika sedang menonton televisi dengan dia sebagai karakter utamanya.

Kala itu dia depresi berat. Terlihat seragam sekolah putih-biru masih dikenakannya. Kamar itu terkunci rapat, gedoran keras pada pintu dia abaikan.

Itu adalah ibunya Chika. Memukul pintu dengan sekuat tenaga berulang kali agar anaknya mau memasakkan makan siangnya. Jika telat sedikit, maka kejadian seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi pasti terjadi. Bahkan jika kurang asin atau keasinan, Chika juga menerima kekerasan fisik.

Dia frustasi, dia tak ingin ditampar lagi, dia tak ingin dipukuli lagi. Dia hanya ingin kasih sayang dari seorang ibu, seorang ibu seperti ibu-ibu lainnya di luar sana yang memberi cinta pada anaknya.

Obat penenang dari dokter pribadinya digenggam, jenis fluoxetine. Seharusnya satu pil saja sudah cukup, namun dengan berani tanpa pikir panjang akan keselamatan jiwanya, Chika dengan lahap menelan sepuluh pil secara langsung dalam satu tegukkan.

Ketukan pintu dia abaikan, hingga beberapa menit kemudian kunci pada pintu tersebut rusak, dan berhasil terbuka. Alangkah terkejutnya ibu Chika melihat mulut anaknya telah berbusa.

Segera dia menggendong anaknya masuk ke dalam mobil, lalu menuju rumah sakit terdekat. Rasa salah saat itu menghantui jiwanya, berharap anak satu-satunya ini selamat dari ajalnya.

Di saat itu juga dalam kamar UGD, antara malaikat maut dan Rofocale, si kucing hitam bertemu, saling berkelahi. Dan kucing hitam memenangkan pertarungan dengan berhasil memasukkan sesuatu ke dalam tubuh Chika hingga malaikat maut tersebut tak bisa menyentuh Chika.

Saat itu di ambang kematian, Rofocale yang dalam bentuk iblisnya berseru pada Chika.

 “Kau, gadis kecil penuh dendam, penuh masa kelam, gadis yang sedang putus asa. Kau sebenarnya gadis baik, gadis pintar. Kau tak seharusnya mati mengenaskan.”

Chika hanya terdiam, duduk manis memeluk lututnya, dan juga menangis mengingat semua ingatan itu.

“Aku akan membangkitkanmu, mau kah kau?”

Sesaat itu juga Chika mengangkat kepalanya, menghadap Rofocale yang mempunyai wajah menyeramkan, namun tak ada rasa takut padanya.

Rofocale mengulurkan tangan.

“Kubangkitkan kau kembali, dengan catatan kau adalah budakku yang mengemban tugas akan membangun sebuah kerajaan besar yang dulu telah mati. Kau tak bisa lari dariku. Kau adalah budak setiaku.”

Tanpa pikir panjang, dalam keputus asaan itu, dalam derita yang telah lama itu, Chika pun meraih genggaman tangan Rofocale, dan sebuah cahaya terang benderang itu menyilaukan matanya.

Dia berhasil hidup kembali.

Tangis itu pecah di dalam kamar UGD. Untuk pertama kalinya lagi, walau samar-samar Chika melihat ibunya tersenyum karenanya. Itu sudah lama sekali.

Lalu layar televisi itu mati, Chika kembali sadar dari masa lalunya.

Jantungnya berdegup kencang, juga keringat deras mengalir dari kening turun ke dagunya, padahal kamar ini telah terpasang ac.

“Chika! Chika! Kamu gapapa?”

Suara itu samar, terdengar beberapakali memanggil namanya.

“Y-ya. Aku gapapa.”

“Benar?”

Chika mencoba menstabilkan diri, juga degup jantungnya yang berpacu tak beraturan. Semua itu terasa nyata, atau memang nyata namun telah terlupa.

“Jadi…, aku mati karena fluoxetine?” batin Chika. “Aku tak boleh ceroboh untuk yang kedua kalinya.”

“Hei, apa yang kau pikirkan? Jangan bengong begitu, dong!”

Chika memandang Ratih, kesadarannya sudah sedikit membaik kali ini.

“Maaf. Sepintas…, tadi aku melihat bagaimana caranya aku mati.”

“Jadi kau sudah melihatnya?” tanya si kucing hitam. “Kalau begitu terima kasihnya nanti saja.”

“Melihat bagaimana caramu mati sebelumnya? Bagaimana bisa?! Mengapa aku tidak?”

Chika menaikkan kedua bahunya. “Entah.”

Sesaat kemudian, jantung Rofocale terasa berdebar kencang. Sebuah insting akurat menggema di kepalanya. Aura kuat ini membuat darahnya menghangat, seakan birahi telah naik menuju puncak.

“Grand grimoire!”

“Grimoire—apa?” Ratih tak paham.

Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Rofocale langsung melompat dari kasur, dia keluar menuju balkon apartemen, dan matanya itu tertuju pada langit malam tak berbintang di sana. Segeralah Ratih dan Chika mengikuti ke mana kucing hitam tersebut lari.

“Ada apa?”

“Grimoire yang memuat sepuluh hingga seratus kali lebih besar dari grimore biasanya. Grand grimoire.”

“Grand grimore?”

“Kita harus mengambilnya…, segera!”

Kemudian Ratih dan Chika mengangguk, lalu mengambil peralatan untuk melakukan jalannya proses ritual.

Rofocale masih memandang langit, dia masih belum mau masuk bersama yang lain.

“Malaikat seperti apa yang malam ini membawa grand grimoire?” batinnya. Dia memasang senyum licik dan melanjutkan, “Hahaa, ini menarik!”

0 komentar:

Posting Komentar